Akhirnya saya nulis juga tentang ini.
Kemaren ada kejadian lucu di kampus kami. Mahasiswa ITB didemo karena tidak ikut demo. Ini terkait dengan aksi solidaritas terhadap Sondang Hutagalung. Apakah dengan tidak ikut serta dalam demo itu artinya mahasiswa ITB apatis?
Hmmm.. . belum tentu.
Terlepas dari cara kepergian saudara Sondang Hutagalung (menurut saya bunuh diri itu perbuatan yang salah), saya ingin menyampaikan rasa belasungkawa. Selain itu, walaupun tidak sepakat dengan cara beliau menyampaikan aspirasinya melalui bakar diri, saya mengapresiasi keberanian beliau. Tidak banyak orang yang memiliki keberanian sebesar itu. Terkadang, menurut saya, sebagai manusia kita harus melakukan hal-hal nekat, tapi tentu saja dalam konteks yang benar dan syar’i.
Banyak yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan saudara Sondang adalah perbuatan bodoh, menyia-nyiakan hidup. Okelah, itu keyakinan dan pilihan saudara Sondang untuk melakukan hal tersebut. Menurut saya, kita sebagai manusia tidak berhak menghakimi perbuatan seseorang, itu bagian Tuhan, kita lakukan saja apa yang menurut kita benar dan sampaikanlah kebenaran, tapi jangan ekslusif. Perbedaan pendapat dan keyakian itu pasti ada, jadilah perekat perbedaan itu karena lakum dinukum waliyadin.
Seperti yang kita tahu bahwa tujuan aksi saudara Sondang tersebut adalah untuk mengkritik pemerintahan. Apakah apa yang dilakukan saudara Sondang tersebut akan menjadi suatu yang sia-sia atau bukan, itu hanya kita yang bisa menentukan. Karena yang mati, telah mati. Hanya orang hidup yang bisa melakukan sesuatu.
Melalui pengamatan saya sendiri, saat ini gerakan kemahasiswaan mulai berubah sedikit demi sedikit. Demo dan aksi turun ke jalan dinilai bukan lagi solusi tepat untuk memperbaiki keadaan Indonesia. Keadaan sekarang berbeda dengan tahun 1998 dimana saat itu semua mahasiswa beramai-ramai turun ke jalan. Masalah yang kita hadapi beda, solusinya haruslah berbeda, meskipun tujuannya adalah sama-sama untuk memperjuangkan rakyat. Kita harus pintar dan cerdas dalam melakukan hal ini. Jangan asal turun ke jalan, apalagi orang Indonesia terkenal latahnya, suka ikut-ikutan.
Kita mengenal dua gerakan kemahasiswaan, yaitu vertikal dan horizontal. Vertikal yaitu pendekatan ke pemerintah, horizontal langsung turun ke masyarakat. Gerakan vertikal ini biasanya dilakukan melalui diskusi2 sampai demo, horizontal melalui pengabdian masyarakat serta penelitian2 dan inovasi2 untuk menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. Gerakan manakah yang lebih baik? Antara vertikal dan horizontal tidak ada yang lebih baik, keduanya sama baik, justru harus sinergis. Bagi saya yang terpenting dalam sebuah gerakan itu harus konkrit, melalui tindakan nyata, jangan ngomong doang.
Memang benar mahasiswa ITB saat ini jarang melakukan aksi turun ke jalan. Namun sepengetahuan saya, mahasiswa ITB memiliki akses ke pemerintahan yang lbh baik sekarang. Bisa duduk di rapat paripurna DPR, menyampaikan aspirasi langsung, tindakan ini menurut saya lebih cerdas dan tentu saja lebih didengar.
Gerakan horizontal melalui pengabdian masyarakat dan penelitian tidak kalah hebat. Saat ini, makin banyak mahasiswa ITB yang ikut pertemuan2, konferensi, lomba, dan kompetisi internasional sehingga bisa membawa harum nama bangsa. Penelitian dan publikasi paper yang terkait penyelesaian permasalahan di masyarakat juga tidak kalah banyak. Terkadang sedih juga, mahasiswa yang memilih untuk tidak turun ke jalan dan mengkritisi pemerintahan tapi memilih untuk belajar siang dan malam untuk membuat antiTB, vaksin hepatitis, vaksin malaria, mesin perontok padi atau apapun itu dianggap sebagai mahasiswa yang apatis. Mereka adalah orang-orang yang memikirkan rakyat juga. Bukan bermaksud pamer atau apapun, tapi inilah bukti bahwa mahasiswa ITB tidak apatis. Bukannya kita tidak ikut memperjuangkan rakyat, kita hanya melakukannya dengan cara yang berbeda.
Namun, khusus terkait dengan saudara Sondang, menurut saya KM ITB harus lebih tegas terhadap sikapnya. Harus segera melakukan sesuatu yang konkrit.
-
oktira posted this