Studi singkat tentang Sekolah-Keluarga-Masyarakat
Menurut Anne Wescott dan Jean L. Konzal dalam buku How Communities Build Stronger Schools, pola hubungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dibagi dalam tiga paradigma yaitu :
1. Paradigma Lama
Guru dan warga sekolah masih terfokus pada dukungan finansial dari keluarga dan masyarakat. Pertanyaan dalam paradigma ini adalah : What can parents, community members, and organizations do for us? Keluarga dan masyarakat pun merasa telah memberikan peran utamanya jika ia telah memberikan dukungan finansial kepada sekolah. Orangtua dan masyarakat hanya ingin tahu bahwa anaknya lulus dengan nilai yang tinggi. Jika ada anak yang berperilaku tidak baik atau bermasalah, orangtua dan masyarakat akan mengembalikan tanggung jawab semua itu kepada sekolah.
2. Paradigma Tradisional
Hubungan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat sudah mulai interaktif. Adanya program beasiswa dan subsidi silang menunjukkan perhatian orangtua dan masyarakat terhadap anak-anak dari keluarga tidak mampu mulai tumbuh. Pertanyaan yang muncul dalam paradigma ini adalah how can parents, community members, and organizations helps us do our job better?
3. Paradigma Baru
Pertanyaan berubah total menjadi what can all of us together do to educate all children well? Pendidikan bagi peserta didik menjadi tanggung jawab bersama. Dengan demikian, tidak ada lagi yang menyebut “murid saya” atau “siswa-siswa itu” atau “anak saya”, melainkan dengan sebutan kolektif “anak-anak kita”.
Indonesia? Nampaknya Indonesia masih berada pada paradigma kedua, yaitu paradigma tradisional. Hal ini tentu bila diliat secara umum.
Untuk sekolah swasta mungkin sudah sampai pada paradigma modern. Karena, seperti yang kita tahu, pihak swasta lebih “bergantung” pada peran serta orang tua.
Beda halnya, bila di daerah-daerah pelosok tanah air, mungkin kita masih banyak menemui paradigma lama.
-
oktira posted this