Langit dan awan-awan
“Diatas langit masih ada langit”, katamu kala itu.
“Bukan, bukan langit, aku suka awan-awan”, kataku.
Mendengar perkataanku wajahmu berubah masam. Wajah masam yang sama seperti saat kau tak menang lotre atau saat ketinggalan kereta. Sebuah kekecewaan dan mungkin sedikit rasa marah.
“Bagaimana mungkin kau lebih menyukai awan-awan?”
“Awan itu memberi kehidupan”, jawabku.
Keningmu berkerut dan bibirmu sedikit kau tarik ke depan, menandakan kau semakin bingung. Ya, kau memang tak mengerti perkara ini. Mungkin kau harus menjadi seorang petani nestapa yang menunggu awan hitam menghampirinya demi setitik hujan yang turun agar benih yang ia semai dapat tumbuh. Atau kau harus menjadi seorang perempuan remaja yang benci teriknya matahari siang dan berharap ada kumpulan awan yang datang melindungi kulitnya dari sengatan UV matahari.
“Sudahlah, kau ini adalah kau dan aku adalah aku“,tambahku.
Kau ini spesies penyuka langit. Dan bagimu diatas langit masih ada langit. Setidaknya itulah satu hal yang kupahami dari dirimu. Kau tak mudah menyerah. Selalu saja kau ingin naik ke langit yang lebih tinggi derajatnya. Lebih dari itu, mungkin kau ini memang penyuka pucuk. Aku berani bertaruh, ayahmu pasti bukan petugas pemadam kebakaran. Kau punya api semangat yang membara. Selalu.
“Bodoh. Langit tanpa awan-awan itu seperti makan tempe tanpa sambal. Hambar!”, katamu memecahkan lamunanku.
Lalu kau tersenyum.
Aku senang.
-
oktira posted this